Sabtu, 22 Maret 2014

SI GUNDIL "BRAJADENTA"





Ukuran : 6
Tipe : Jalu
Usia : 1 tahun
Prastasi : 6 kali menang under 2 round
Pemilik : Ir. Batara Depok

Sabtu, 20 Maret 2010

Gundul 01



Gundul 01 adalah ayam muda yang dibeli di Thailand seharga sekitar Rp. 30 juta. Sayang, ayam ini mengalami cidera dalam perjalanan sehingga saat ini masih dalam perawatan.

Brumbun 01




Ayam lokal tak kalah dengan ayam import : tulang besar - otot besar.

Ireng 01


Ireng 01 didatangkan langsung dari Thailand, dibeli dengan harga sekitar Rp. 130 juta (konversi ke kurs lokal), merupakan turunan juara (Champion) di Thailand. Ireng 01 belum mempunyai catatan tarung di kalang2 Nusantara. Saat ini Ireng 01 hanya dijadikan pacek di peternakan AH.

Jalak 01



Jalak 01 adalah ayam petarung lokal namun telah menumbangkan 5 jago import. Jago-jago import yang telah tumbang itu, semuanya mampu dikalahkan dalam waktu kurang dari 1 ronde (1 ronde sekitar 15 menit), 4 diantaranya mati di laga (kalang, gelanggang atau arena). Jalak 01 dibeli pengusaha lokal dengan harga lebih dari Rp. 100 juta di Jakarta. Saat ini Jalak 01 dijadikan pacek utama di peternakan AH (lokasi tak dipublikasikan untuk keamanan). Jalak 01 terpaksa pensiun dini sehubungan tak ada lagi lawan di kalangan-kalangan papan atas... ck..ck..ck...

Sabtu, 13 Maret 2010

BIBIT BETINA






Kode :
001A (Grand Parent Stock Betina)
Warna :
Blorok atau Brumbun
Warna Shank :
Putih bercorak hitam
Pertulangan :
Sedang
Gaya tarung :
Ngalung dan Nyayap
Kecepatan/speed :
Tinggi
Akurasi pukulan :
Tinggi

Memilih bibit betina jauh lebih rumit dibanding memilih bibit jantan. Bibit jantan juara mudah dicari. Bibit betina yang bagus tak bisa dibeli dari sembarang orang. Lagi pula jarang sekali peternak ayam sabung mau menjual ayam betinanya.

Saya mengambil bibit betina dari seorang teman lama di Bekasi Barat yang sudah saya maklumi reputasinya dalam pengelolaan ayam sabung. Bibit betina yang saya beli adalah turunan juara yang memiliki kelebihan dalam hal gaya tarung, kecepatan, dan akurasi pukulan.

Jumat, 12 Maret 2010

NILAI ETIS DAN ESTETIS PELIHARAAN SAYA

Orang menyebutnya Ayam Bangkok, meski belum tentu memiliki hubungan geneaologi yang dekat dengan ayam-ayam dari Bangkok, Thailand. Ayam Bangkok adalah nama untuk ayam-ayam petarung yang memiliki bobot badan lebih binggi dari rata-rata ayam kampung, memiliki pertulangan dan perototan yang lebih besar, berperawakan gagah, bermata tajam, dan memiliki suara kokok yang besar dan serak.

Sebetulnya, Ayam Bangkok asli Thailand, Ayam Bangkok lokal, dan Ayam Kampung khas Indonesia, memiliki moyang yang sama, yaitu Ayam Hutan Merah (Red Jungle Fowl). Beberapa penelitian membuktikan, dari tetua Ayam Kampung biasa, dapat dihasilkan turunan-turunan yang memiliki performen yang sama dengan Ayam Bangkok dari Thailand melalui teknik seleksi sederhana, misalnya line breeding atau mass breeding. Salah satu peneliti yang saya ketahui telah berhasil membuktikan hal ini adalah Ir. Surono Danu dari Lampung Tengah. Ayam Bangkok ‘rekayasa’ dapat dibuat benar-benar mirip aslinya, misalnya bobot pukulan yang berat, warna merah yang cerah dan menyala disertai bulu hitam yang agak bule atau kekuning-kuningan, adanya bulu rawis di pangkal paha, suara yang berat dan serak, tahan pukul, berototan dan pertulangan yang besar dan kasar, serta tipe gaya tarung yang konservatif. Dengan demikian, sebetulnya istilah Ayam Bangkok sudah tidak relevan lagi. Sehubungan dengan adanya kekacauan istilah ini, beberapa penghobi mencari istilah lain, misalnya Ayam Sabung atau Ayam Laga, tidak peduli dari ras dan bangsa mana ayam itu berasal.

Dari literature-literatur yang ada, telah diketahui bahwa budaya sabung ayam sudah ada di Nusantara sejak berabad-abad lalu. Salah satu cerita kuno menerangkan bahwa Raja Pajajaran menyelipkan sebutir telur ayam sabung di sisi keranjang anaknya yang dibuang. Kelak, jika suatu ketika ada ayam yang mampu mengalahkan ayam-ayam kerajaan, maka dipastikan ayam tersebut adalah turunan ayam Sang Raja, yang notabene berasal dari telur yang diselipkan di keranjang bayi... Demikianlah penggalan cerita Manarah alias Ciung Wanara, si anak raja yang dibuang, yang akhirnya kembali ke istana lantaran ayam Ciung Wanara merajai berbagai kalang ayam di berbagai tempat.

Dari literature diketahui pula bahwa selain ayam kampung, beberapa ayam asli Indonesia yang biasa dijadikan ayam sabung adalah Ayam Bali yang terkenal karena kelincahannya, Ayam Banten yang terkenal karena bobot pukulan dan ketahanan fisiknya, Ayam Ciparage yang terkenal karena pertulangannya yang besar, Ayam Batu dari Padang yang terkenal karena kecepatannya, dan masih banyak lagi.

POLEMIK ANTARA HOBI DAN JUDI

Ayam sabung identik dengan perjudian meski tidak semua penghobi ayam sabung menyukai judi. Saya misalnya, menyukai ayam sabung karena kegagahannya yang memiliki nilai estetik, dan agresifitasnya yang mencirikan semangat hidup. Memang sudah kodratnya ayam jantan itu pasti bertarung untuk mencapai kepastian status sosial mereka. Bukan hanya ayam, hampir semua hewan memiliki naluri seperti itu. Ketentraman sosial hewan akan terkendali apabila telah terbentuk strata berdasarkan kekuatan, melalui pertarungan antar sesama.

Para Raja dan Pembesar dahulu kala menjadikan ayam sabung sebagai simbol status. Ajang pertarungan ayam dijadikan media silaturrahmi. Tidak ada perjudian karena yang dicari hanya kepuasan batin semata.

Di Bali, sabung ayam menggunakan pisau adalah tradisi turun temurun yang memiliki nilai sakral, demikian pula di banyak tempat lainnya di Indonesia. Namun bagi penghobi seperti saya, pertarungan ayam hanyalah media olah fisik (olahraga) yang alami untuk mencapai kebugaran, kesehatan, dan perototan yang baik tanpa menghilangkan sifat alamiah ayam-ayam itu, untuk mencapai tujuan etis dan estetis dari pemeliharaannya, yakni menginspirasikan semangat hidup dan keindahan bentuk. Tak lebih.